otakjepang
1432159430333932
Loading...

Gaji Penghasilan Tunawisma di Jepang Mencapai 10 Juta Rupiah ?


Ketika kalian membayangkan orang-orang tunawisma atau orang yang tidak punya tempat tinggal dengan rumah permanen, bayangan kalian yang biasanya muncul mungkin seseorang yang kumuh, gembel dan tentunya tidak punya apa-apa. Stigma sosial menganggap tunawisma adalah seseorang yang mengalami kegagalan dalam hidupnya bukan sebuah pilihan. Di Jepang stigma ini tampaknya tidak bisa dibenarkan, karena banyak tunawisma di Jepang yang mempunyai gaji dan penghasilan bulanan yang cukup layak bahkan cukup tinggi.

Jika kamu pernah bepergian di sekitar kota-kota besar di Jepang seperti Osaka atau Tokyo mungkin kamu pernah melihat tenda dengan terpal biru di taman atau di bawah jembatan, diatur berjejer layaknya selimut bermain bagi anak-anak. Jika tidak ada yang pernah mengatakan kepada Anda tempat apa itu, Anda mungkin berpikir mereka tenda-tenda itu tempat bagi pekerja untuk menyimpan alat-alat mereka, tapi tenda terpal itu benar-benar rumah yang dibangun dan ditinggali di oleh penduduk tunawisma di negeri matahari terbit itu.

Tunawisma di Jepang memanglah tidak seperti tunawisma di negara lain. Dibandingkan dengan negara maju lain layaknya Amerika serikat, tunawisma adalah campuran dari beragam pria dan wanita dari segala usia yang juga banyak menderita penyakit mental.

▼ Dan lihatlah bagaimana komunitas tunawisma ini 


Di Jepang-atau setidaknya di Tokyo-Namun, kebanyakan orang tunawisma adalah laki-laki setengah baya atau lebih tua. Satu artikel bahkan menunjukkan bahwa banyak dari orang-orang ini dulunya pekerja kerah putih atau pernah menjadi salah satu pemilik perusahaan sukses. Untuk alasan apapun, banyak dari orang-orang ini akhirnya memilih hidup di luar sistem. Sebagai salah satu pria yang lebih tua mengatakan kepada reporter China, "Setelah menghabiskan satu tahun sebagai seorang tunawisma di Jepang, seseorang tidak ingin kembali bekerja. Alasan yang paling kuat karena tidak ingin lagi menjalani hidup dengan jam kerja yang ketat."

Tapi hanya karena mereka tidak bekerja di pekerjaan rutin bukan berarti mereka tidak mendapatkan penghasilan. Bahkan satu orang tunawisma berumur 60 tahun yang dikenal sebagai Ishii, yang telah tinggal di jalanan selama 13 tahun, mengatakan kepada seorang reporter dari Spa!, sebuah majalah Jepang, bahwa ia bisa membuat penghasilan sekitar ¥ 3.000.000 (atau sekitar 300 juta rupiah) per tahun. Seorang pria lain, yang menjalani hidup sebagai tunawisma selama 12 tahun mengatakan kepada Spa! bahwa ia dapat membuat lebih dari 100.000 yen (sekitar 10 juta rupiah) per bulan.

Bagaimana mereka mampu melakukan ini tanpa harus mempunyai pekerjaan yang "normal"? jawabannya adalah bekerja sebagai pemulung.

Layaknya di Indonesia, pemulung berarti mengais-ngais kaleng aluminium dan berbagai logam bekas enam hari seminggu dan ternyata itu cukup menghasilkan gaji sekitar 10 juta per bulan. Di atas semua itu, sebuah smartphone yang ditemukan di tempat sampah dapat dijual sekitar 7000 yen atau 700 ribu rupiah. Sampah komputer notebook bekas dihargai 3,000 yen 300 ribu rupiah, tetapi nilai itu turun menjadi hanya sekitar 700 yen 70 ribu rupiah dukungan software sistem operasi Windows XP telah berakhir. Beberapa pemulung lainnya mengumpulkan majalah, buku, dan komik yang tersisa di kereta pagi untuk dijual di luar stasiun kereta api malam yang mana polisi, untungnya, menutup mata juga.

Namun, beberapa orang tunawisma dapat hidup relatif nyaman. Sebagai contoh, salah satu pria yang diwawancarai Spa! mengatakan bahwa ia menghabiskan sebagian besar uangnya untuk makanan dan rokok. Ia menghindari daging, alkohol, kenyamanan restoran, dan makanan cepat saji. Mereka lebih memilih untuk makan daging babi, ayam dan sayuran.

Selain makanan dan tenda terpal biru, tunawisma dari Tokyo dapat membuat kehidupan yang cukup baik untuk diri mereka sendiri dengan benda-benda yang ditemukan. Misalnya, baterai mobil tua dapat digunakan untuk daya peralatan listrik, air hujan dapat disimpan dalam tangki, dan hewan peliharaan dapat dipelihara jauh lebih mudah daripada di sebuah apartemen biasa.


Tentu saja hal diatas ada di Tokyo, lalu bagaimana dengan kota lainnya. Seorang pria berumur 65 tahun di Fukuoka memberikan penuturan bagaimana bisnis memulung sampah memiliki cerita yang sangat berbeda disana. Ia juga membuat uang dengan mengumpulkan kaleng, satu kilogram senilai 110 yen (sekitar Rp.11.000) dan ia hanya bisa mengumpulkan sekitar 10 kilogram per hari. Beberapa hari ia bahkan tidak bisa mengumpulkan sebanyak itu karena truk sampah (diduga dioperasikan oleh Yakuza) yang juga "memulung" di sekitar kota fukuoka di malam hari. Kota Fukuoka direncanakan akan membuat hukum terhadap orang-orang yang mengumpulkan kaleng dan mulai bulan depan para pelanggar akan didenda.

▼ siswa sekolah hukum Jepang dalam konsultasi dengan seorang pria tunawisma.


Otak Jepang 8962674682879809217

Posting Komentar Default Comments Disqus Comments

Kamu dapat menambahkan video di kolom komentar dengan format [video]link video kamu[/video] atau [img]url gambar[/img] untuk menambatkan gambar di komentar kamu.

emo-but-icon

Beranda item

Recent Post

Begini yang Orang Jepang Lakukan Jika Hidung Mampet

Random Posts